Ceritanya Ke Bali

Tak terbayangkan bagaimana dulu para pemuka Agama Hindu menembus hutan mencari ujung Pulau Bali lalu menemukan tebing Uluwatu dan membangun sebuah Pura bernama Luhur dan menjadikannya salah satu tempat paling indah di Bali. Meskipun tak bisa menikmati sunset karena mendung dan tak sempat menonton pertunjukan Tari Kecak pula tapi ide membangun tempat ibadah di tebing menghadap samudera luas itu cemerlang sekali. Coba itu masjid, saya pasti langsung sholat. Mengucap takbir di hadapan samudera luas, kapan lagi?

Beberapa abad kemudian ide membangun tempat kontemplasi di atas tebing yang menghadap samudera luas itu ditiru oleh beberapa private villa yang banyak ditemui di garis pantai selatan Pulau Bali. Bulgari resort adalah salah satu contohnya. Juga Alila Uluwatu yang saya sempat nyasar ke sana. Berharap dipersilahkan istirahat sebentar di sana tapi ternyata tidak.

Iya ceritanya saya tu kemarin liburan kere ke Bali. Sebagai seorang yang pengen dianggap sudah lulus jadi anggota kelas menengah ngehe jadi saya harus menceritakan pengalaman saya selama liburan dong. Yang lagi ngetrend sih kultwit tapi saya males bikin nomer jadi di blog ini saja.

9 Januari 2014. Setelah ngantri take off di Soekarno Hatta selama 40 menit akhirnya tibalah Air Asia saya yang murah meriah yang tiketnya saya beli entah kapan sudah lama makanya bisa murah begitu. Toni Fernandes harus berterima kasih pada saya karena selain mamakai peswatnya, saya juga nginep di hotel yang dia punya. Tunes Hotel Kuta.

Tunes, hotel dengan konsep bayar-yang-anda-gunakan-saja ini sungguh menerapkan konsepnya dengan tertib. Saya menginap di kamar single yang luasnya lebih kecil dari rata-rata ukuran kost di wilayah Kuningan Jakarta Selatan. Hanya ada ranjang dan kamar mandi. AC dan hair dryer tersedia, karena saya tidak membayar untuk hair dryer jadi itu hair dryer tidak bisa dipakai. AC, saya membayar untuk 24 jam. Saya menyalakan beberapa jam tapi di indikator sisa waktu juga tidak berkurang. Entah mengapa, mungkin sistemnya kurang bagus. Tak apalah, toh Kuta juga lagi dingin jadi gak butuh AC.

Untuk toiletris, saya hanya diberi satu handuk dan 2 sabun mandi. Untuk yang demikian ini saya membayar 18 ribu rupiah. Bila ingin mengganti handuk tinggal menukarnya di resepsionis. Yang paling saya suka dari Tunes adalah showernya yang sangat bertenaga dan air hangatnya juga enak. Saya yang suka malas mandi pun sore itu terpaksa mandi. Mandi karena ceritanya mau nongrong di Pantai Kuta memandangi matahari Tenggelam.

Sebagai orang yang paling sering menghabiskan masa hidupnya di Pulau Jawa bagian tengah dan barat maka jam setengah enam waktu setempat sudah nongrong di Pantai Kuta. Tak dinyana ternyata di Pulau Dewata, mataharinya tenggelam pada hampir puku 7 malam. Tak apalah, toh di pantai paling ngetop di Bali ini banyak yang bisa dipandang (if you know what i mean).

Menjelang malam, kafe-kafe di sepanjang Kuta mulai menunjukkan atraksinya untuk menarik pengunjung. Lampu warna-warni, musik dan live DJ sudah bermain meskipun masih sesore itu. Saya sempat berjalan dari ujung ke ujung, semuanya demikian.

Lanjut ke Poppies, sebuah jalan yang terkenal dengan penginapan mewahnya. Tembus ke Ground Zero, lanjut ke Legian. Di sepanjang jalan inilah saya merasa apa yang sudah saya lewati tadi seperti bukan milik orang Indonesia tapi bule. Maksud saya, saya tak melihat satupun turis lokal yang ditawari apa yang dijual sepanjang jalan-jalan tersebut. Selalu bule yang ditawari. Padahal dari informasi yang saya dapatkan dari teman yang saya temui di penghujung malam itu, justru wisatawan lokal lah yang menghabiskan banyak uang di sana.

Malamnya saya bertemu dengan teman yang menjadi informan cerita di paragraf sebelumnya. Ketemunya di mana? di Eat & Eat dong. Itu mah di Jakarta ada 🙂

10 Januari 2014. Saya menyewa motor di Merta Ada Rental (087 861 813245). Silahkan ditelpon saja, nanti motornya diantar ke hotel.

Meluncurlah saya tanpa tanya jalan ke Pantai Sanur. Melewati Sunset Road lanjut ke by pass Ngurah Rai. Di Sanur cuma sebentar, lanjut ke pantai yang entah apa namanya lupa. Sampai di tempat parkir langsung melihat tulisan “Dilarang Parkir kecuali yang Diving”. Ya pantai itu ternyata titik start sebelum para diver menikmati pemandangan bawah laut timur Bali.

Jalan Tol Bali Mandara. Saya sempat mencoba jalan tol yang bisa dilalui motor ini. Saya awalnya tak tahu mau ke mana. Asal masuk saja, bayar 4000 rupiah untuk motor. Jalanan untuk motor hanya cukup dilalui oleh dua motor berjajar. Sebagian besar jalan tol ini berada di atas laut. Agak berbahaya juga sih kalau angin sedang kencang-kencang berhembus di Mandara, apalagi motor yang saya sewa adalah Mio yang relatif kecil.

Di tengah jalan tol menjelang jalan bercabang pemisah arah kendaran ada beberapa belokan yang sangat tajam, di sinilah pemotor harus berhati-hati. Ada dua pilihan: Kuta atau Nusa Dua. Saya pilih Nusa Dua. Ujung jalan tol ini adalah arah Tanjung Benoa dan Nusa Dua.

Di ujung hari inilah saya menuju Uluwatu. Oh iya, saya gak jumatan karena gak nemu masjid dan hanya pakai celana pendek. Alasan.

Satu lagi. Nasi Pedas Bali itu enak. Sebeneranya hampir mirip Warteg. Warung dengan banyak pilihan menu makanan gitu. Ditambah dengan sambal khusus yang buat saya yang bukan penggemar pedas malah gak terlalu pedas. Saya suka.

11 Januari 2014. Agak siangan saya langsung memacu motor ke arah Ubud. Jalan yang saya ambil sama dengan ke arah Sanur cuma lebih sanaan dikit. Setengah perjalanan lebih sedikit hujan deras turun, terpaksa meneduh daripada nekat memakai jas hujan murahan nan tipis yang disediakan rental motor.

Setelah hujan reda, sampailah saya di The Bridges, restoran terkenal di Ubud. Letak persisnya di sebelah pintu masuk ke Museum Antonio Blanco. Di tepi sungai Campuhan. Bila ada sumur di padang, bolehlah mampir. Head chefnya, Mbak Haley itu teman saya yang sudah baik hati memberikan penginapan di Ubud.

Saya menginap di Guest House Lila Cita Inn di Jalan Suweta. Sebuah guset house dengan desain rumah Bali yang (seperti biasa) menarik. Kalau anda suka babi guling, Lila Cita berada dekat dengan Babi Guling Bu Oka yang terkenal itu. Yang bahkan Anthony Bourdain menyebutnya sebagai makanan dengan olahan babi terbaik di dunia. Menurut Mbak Haley sih lebih enak Babi Guling Candra di Denpasar. Saya kurang tahu mana yang lebih enak karena tidak mencoba keduanya. Dilarang oleh agama saya tapi saya ingin padahal. 🙂

Ubud lebih sepi dibandingkan Kuta atau Legian. Sepi dalam artian tidak banyak hingar bingar musik. Katanya sempat ada tempat dugem yang buka di Ubud tapi akhirnya mati juga karena kurang peminat. Tetap banyak kafe tapi lebih kafe yang tipe “minum-minum-cantik”. Seperti yang saya, Mbak Haley dan Dewi kunjungi malam itu: Bar Luna. Cafe kecil dengan cocktail harga happy hour sampai jam 9 malam. Makanannya kurang mantap lah jadi minum saja.

12 Januari 2014. Sebelum balik ke Kuta, makan siang di Nasi Ayam Kadewatan. Menunya cuma satu jadi gak usah pusing. Yaitu Nasi Campur. Berisi nasi, sambel, sate lilit ayam, ayam goreng, lawar ayam, dan kacang goreng. Saya juga suka ini.

13 Januari 2013. Hari terakhir di Bali kali ini. Hujan sedari pagi. Ke bandara jalan kaki.

Begitulah. Bali itu menyenangkan meskipun ayam dan Pepsi di KFC di sana gak enak, tak banyak SPBU dan tukang tambal ban. Berdoalah supaya ban tak bocor saja.

2 thoughts on “Ceritanya Ke Bali

Leave a Reply