Papua Berkisah Semusim Lagi dan Sebuah Janji

Sudah terlalu banyak janji yang saya tulis di blog ini. Terlalu banyak juga yang saya ingkari sendiri. Salah satu yang paling sering saya ingkari adalah janji bahwa saya akan lebih sering menulis di sini. Janji hanyalah janji. Dan saya tak kapok berjanji. Kali ini saya berjanji akan membaca lebih banyak buku.

Setengah bulan yang lalu saya membaca dua (plus secuil) buku. Bukan prestasi yang membanggakan tapi setelah masa-masa kegelapan malas membaca buku maka membaca dua buku adalah sebuah kebanggaan. Tetap bukan prestasi sih. Dan dua (plus secuil) buku tersebut adalah:

Papua Berkisah karya Swastika Nohara. Saulus dan putrinya, Eva melakukan sebuah perjalanan dari Jakarta ke Papua. Hubungan seperti ini ditambah dengan latar belakang road trip akan menjadi premis yang menjanjikan. Ditambah lagi dengan latar belakang tokoh utama yang berasal dari Papua adalah latar belakang karakter yang jarang ditampilkan di buku-buku Indonesia.

Sayangnya, premis yang sudah menjanjikan itu tidak diikuti dengan kedalaman cerita dan karakter. Istilahnya “cetek” banget ceritanya. Lembar demi lembar berlalu tanpa menimbulkan perasaan apapun meskipun Papua Berkisah juga bukan buku yang membosankan.

Semusim, dan Semusim Lagi karya Andina Dwifatma. Tokoh tak bernama dengan segala kerandomannya membuat saya langsung jatuh cinta kepadanya. Buku pemenang Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini sungguhlah sebuah buku surealis yang menarik. Suatu hari tokoh tak bernama yang saya cintai itu menerima sebuah surat dari seseorang yang mengaku sebagai ayahnya. Dari sinilah tokoh tak bernama itu memulai petualangannya yang absurd luar biasa. Di luar pamer kepintaran penulis yang tidak terlalu saya suka, buku ini mempunyai gaya penceritaan yang unik. Dan sungguh saya jatuh cinta pada tokoh tak bernama itu.

Dilan karya Pidi Baiq. Inilah buku yang hanya saya baca secuil itu. Hanya dua atau tiga bab kalo tidak salah. Entah kenapa. Saya tidak kuat saja membacanya :). Setelah sempat menyerah gak mau baca buku ini akhirnya dipaksakan membaca juga karena penasaran karena buku ini menjadi best seller dan beberapa teman yang biasanya gak suka buku kayak gini suka juga. Oke, bukunya memang tidak sebagus ekspektasi saya. Semacam autobiografi-nya Kang Pidi Baiq. Meskipun tidak bagus-bagus amat, saya tetep akan membaca buku keduanya. Setelah era Rangga (AADC) kita remaja Indonesia belum punya lagi tokoh panutan seperti Lupus, Si Boy dan Ali Topan. Nah, Dilan ini sangat mungkin mengisi kekosongan tersebut.

Leave a Reply