Wadjda

review-wadjda-e1367043527839

Mimpi mempunyai sepeda mungkin bukan sebuah mimpi yang sangat istimewa bagi sebagian besar anak yang menginjak usia remaja. Tapi tidak bagi Wadjda. Bukan karena orang tuanya tidak mempunyai uang untuk membelikannya sepeda tapi karena Wadjda adalah gadis yang tinggal di Arab Saudi. Di sana, sepeda terlarang bagi wanita. Sepeda dikhawatirkan akan merusak kehormatan wanita. Sementara bagi Wadjda, sepeda bukan sekadar sepeda. Sepeda adalah simbol kebebasan bagi dirinya yang hidup di tengah masyarakat yang begitu mengungkungnya.

Wadjda yang pemberontak untuk ukuran Arab Saudi (tidak mau menutup wajahnya dengan cadar, memakai sneaker Converse, bermain dengan anak lelaki dan menbuat mixtape lagu pop) berusaha mencari uang sendiri untuk membeli sepeda berwarna hijau impiannya. Dia mengikuti lomba mengaji demi meraih hadiah uang yang cukup untuk membeli sepeda. Masalahnya, meski dia orang Arab Saudi, Wadjda ternyata tak pandai mengaji. 

Suara Itu

Malam belum terlalu larut tapi kantor sudah sepi. Tidak ada orang lagi kecuali aku yang sepenuh hati sedang menyelesaikan pekerjaan demi kelancaran acara besar di kantor akhir bulan ini. Kombinasi kesendirian, dingin hujan sejak sore dan kerjaan yang tak kunjung habis membuatku mendamba secangkir kopi.

Sambil berjalan ke pantry, ku intip kantor sebelah lampunya juga sudah dimatikan. Tampaknya sudah tak ada orang lagi di lantai ini. Hanya aku.

Kopi sudah jadi. Saatnya melanjutkan ker…. twitteran. Timeline mulai berjalan lambat. Mungkin memang hanya aku yang terlalu bodoh untuk tetep bekerja di malam yang dingin dan bergerimis ini. Dan bukannya berlindung, tidur nyenyak di bawah selimut.

Di antara klak-klak keyboard, klik-klik mouse dan sruputan kopi yang tinggal ampasnya tiba-tiba perutku bergejolak. Sudah hidup puluhan tahun tapi perut ini tetap saja belum mampu beradaptasi dengan biji kopi yang kucintai. Aku setengah berlari menuju toilet.

Beberapa lampu koridor sudah dimatikan, tandanya sudah malam sudah semakin. Begitupun lampu toilet. Hanya lampu kecil yang menyala membuat suasanya toilet dengan dua bilik ini menjadi temaram.

Aku segera masuk ke salah satu biliknya. Kulepas celana dan segera duduk. Kukerahkan tenaga, mengedan agar semua ini cepat selesai. Tiba-tiba dari bilik sebelah kudengar suara itu.

“PLUNG!”

Aku yakin aku sendirian di toilet malam itu.

(terinspirasi oleh teman saya: Intan)

Tentang Burung Hantu

“Hanya burung bersuara merdu yang dikurung. Burung hantu tidak dimasukkan sangkar”– Jalaludin Rumi

Entah memang demikian adanya atau kalimat di atas tidak lain hanya rekaan Rumi belaka tapi kalimat tersebut mengingatkan pada sebuah cerita di masa kecil saya. Sebuah cerita yang sedkit banyak membuktikan Rumi tidak salah.

Di depan rumah saya di kampung terdapatlah sebuah kebun kosong dengan beberapa pohon jati yang tinggi dan besar. Suatu hari dari kebun tersebut terdengar suara burung hantu. Bukan hal yang aneh sebenarnya mengingat berbagai macam hewan bisa muncul dari kebun itu tapi suara itu tidak hilang hingga beberapa hari. Mungkin tidak ada yang peduli juga.

Hingga suatu hari burung hantu yang kami anggap mengeluarkan suara magis di malam-malam sebelumnya tiba-tiba saja jatuh ke tanah. Entah apa sebabnya. Ayah saya yang waktu itu kemudian menangkapnya juga tidak mengerti. Kemudian ayah menempatkannya ke sebuah sangkar. Begitu masuk ke dalam sangkar, burung tersebut sempat terbang berontak seperti ingin membebaskan diri. Artinya burung tersebut jatuh bukan karena tidak bisa terbang. Itulah pemberontakan pertama dan terakhir dari burung itu. Setelahnya, dia hanya diam dan tidak melakukan apa-apa.

Tidak juga bersuara dan juga makan. Kami sudah memberikan semua makanan yang kami kira adalah makanan burung hantu tapi dia tidak bergeming sedikitpun. Dia tetap puasa. Dia hanya diam nangkring di tengah-tengah pijakan kaki di dalan sangkar dengan mata terbuka lebar khas burung hantu. Saya selalu mengira dia tidak tidur selama di dalam sangkar. Hanya diam saja. Tapa bisu.

Akhirnya kami takut sendiri. Kami takut burung tersebut akan mati di rumah kami. Setelah kurang lebih seminggu, kami membawa sangkar burung tersebut ke pinggir kebun kosong. Setelah pintu sangkar terbuka, burung tersebut langsung melesat terbang dan menghilang. Malamnya kami mendengar suara burung hantu lagi.

Demikian.